Rabu, 11 April 2012

korek mesin spin menjadi 180cc harian

180 cc spin


Suzuki Spin termasuk jarang dimodifikasi. Maklum peranti pendukungnya lumayan langka. Termasuk aksi bore up sampai gede-gedean juga jarang dilakukan. Ini yang bikin penasaran Guntur, pemilik Spin 125 dari Meruya, Jakarta Barat itu. Dia ingin bikin Spin jadi 180 cc.

Guntur tetap ingin motornya bisa dipakai harian. Dan tentunya juga, masih bisa digeber balap liar atau bali kelas standar. Makanya tidak boleh terlihat adanya paking aluminium di blok silinder. Juga karburator harus masih standar tampak dari luar.

Untuk itu semu, Guntur order langsung ke Feriandi, mantan mekanik Kymco Bintaro, Tangerang. “Setelah dicek, jarak 4 baut blok silinder cukup dekat. Tidak bisa dipasangi seher gede lebih dari 63,5 mm. Apalagi mencari seher yang sesuai dengan pin Spin cukup jarang,” jelas Feriandi.

Setelah ditelusuri, seher buatan TDR untuk bore up Yamaha Jupiter MX dirasa paling pas. “Tersedia dari ukuran 61-62 mm juga ada. Enaknya diameter pin seher sama-sama 14 mm. Sehingga bisa dipasang di setang seher standar Spin,” jelas Feriandi yang berjenggot itu.

Seher Jupiter MX juga secara desain sudah bagus. Selain enteng juga bentuknya menguntungkan. Badan seher seperti sudah racing. Yang menempel di liner hanya sedikit. Sehingga gesekannya ringan. Apalagi didukung ring seher yang tipis-tipis, makin ringan saja gesekannya.

Seher TDR yang dipakai Feriandi diambil yang ukuran 61 mm. Alasannya biar bisa ganti seher lebih gede lagi. Jika sudah ngebul bisa naik yang 62 mm. Masih merek TDR juga. Jadinya lebih awet dan murah biayanya.

Pilih seher ukuran 61 atau 62 mm juga masih menguntungkan. Tidak perlu bobok crankcase. Sebab diameter boring yang masuk crankcase bisa dipatok 64,8 mm. Masih bisa masuk ke lubang crankcase Spin yang 65 mm itu.

Tanpa bobok crankcase bisa menghemat pengeluaran. Tidak perlu biaya untuk tukang bubut. Juga tidak merusak crankcase, sehingga kalau mau dibuat standar lagi bisa seperti buatan pabrik.

Enaknya lagi kepala seher punya MX cukup pendek. Sehingga kalau dipasang di blok Spin akan lebih mendem 3 mm. Ini bisa dimanfaatkan untuk naik stroke. Posisi seher bisa naik 3 mm dan turun 3 mm. “Total kenaikan stroke jadi 6 mm,” jelas brother yang sudah bikin Mio 218 cc tanpa paking tebal juga.

Dengan begitu bisa didapat stroke atau langkah piston yang tinggi. Standar Spin yaitu 55,2 mm. Kalau naik stroke sepanjang 6 mm, maka totalnya 55,2 + 6 mm = 61,2 mm. Lumayan tinggi kan.

Kenaikan stroke 6 ini lumayan menguntungkan. Sebab jika aplikasi seher 61 mm akan jadi square. Diameter dan langkah piston hampir sama. Akan didapat kondisi mesin yang seimbang. Getaran mesin juga tidak terlalu tinggi. Cepat didapat kenaikan rpm.

Dengan begitu cukup nyaman dipakai harian. Yang terpenting lagi, kapasitas silinder jadi bengkak. Diameter seher 61 mm dan stroke 61,2 mm. Jika dihitung menggunakan rumus kapasitas silinder akan didapat 178,8 cc. Kalau digenapkan, ya jadi 180 cc.

Hampir setera dengan Yamaha Mio yang sudah menggunakan seher 63,5 cc dengan stroke standar. Dipastikan masih bisa bejaban.

STROKE UP 6 MM TANPA PAKING

Untuk menaikkan kapasitas silinder bisa dibarengi dengan naik stroke. Seperti pada Spin milik Guntur yang bekerja di arena PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat itu.

Untuk naik stroke dipilih yang instan dan ringan. Menggunakan pin stroke yang bisa langsung pasang. Pin stroke dipilih yang benjol 3 mm. Sehingga bisa naik 6 mm.

Untuk mendapatkan pin stroke untuk Suzuki Spin memang langka. Atau bahkan mungkin belum ada di pasaran. “Solusinya bisa menggunakan pin stroke milik Suzuki Smash,” jelas Chandra Sopandi yang mengerjakan pemasangan pin ini.

Pin stroke Smash memang tidak sama plek dengan kepunyaan Spin. Namun dudukan untuk setang seher sama lebarnya dengan punya Spin. Sehingga bisa dipakai.

Bahkan diameter pin stroke Smash juga bisa pas dengan diameter big end setang seher Spin. Sehingga bisa pas. Namun yang kurang pas justru pada bandulnya.

Bandul Smash lebih tipis dibanding Spin. Maka dudukan bandul Smash juga tipis. Kurang lebar dipasangi bandul Spin. Namun masih dirasa masih lumayan kuat.

Untuk mendapatkan pin stroke 3 mm milik Smash cukup banyak. “Bisa pakai buatan Kawahara, CLD atau LHK,” jelas Chandra yang pemilik bengkel bubut Master Tjendana di Jl. Pagarsih No. 146, Bandung itu.

Harga pin stroke untuk Smash sama dengan untuk motor lainnya. Sekitar Rp 250 ribuan.

Menurut Chandra, pin stroke cukup pakai yang 3 mm. Dengan kenaikan stroke 6 mm dirasa maksimal. Jika lebih dari itu, piston akan nongol dan menghantam kepala silinder.

Selain terapkan pin stroke, Chandra juga mengerjakan pasang klep gede di kepala silinder milik Spin ini. Lelaki berkacamata itu pakai klep merek EE. Diameter payung klep isap 31,5 mm. Sedangkan buangnya diset 25 mm.

Kondisi ini dirasa cukup untuk motor racing. Diplih menggunakan klep EE karena batangnya hanya 5 mm. Sehingga gesekan lebih ringan dan bobotnya juga enteng. Daripada pakai klep Honda Tiger yang diameter payungnya hampir sama tapi batangnya gede. Berat dan gesekan tinggi.

Klep EE selain dipotong juga lebih bagus diringankan. Caranya permukaan payung klep dibikin dalam. Lumayan bisa mengurangi beratnya. “Portingnya juga kudu dibenahi. Lubang isap dibuat jadi 28 mm,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar